Pencatatan Pembelian | Metode Perpetual

Salah satu karakteristik khusus yang membedakan antara metode fisik dengan perpetual adalah dalam hal pencatatan pembelian. Apabila di metode fisik, setiap pembelian disimpan dalam rekening pembelian, berbeda dengan metode perpetual, didalam metode perpetual tidak dicatat dalam rekening pembelian karena di perpetual tidak mengenal rekening pembelian, lalu disimpan dimanakah setiap terjadi pembelian bahan ? di dalam perpetual setiap terjadi pembelian langsung menambah nilai persediaan artinya pembelian disimpan dalam rekening persediaan.
Sebagai contoh :

Pada tanggal 1 Maret 2011 dibeli bahan sebanyak Rp. 9.200.000 secara kredit dari CV Maju Jaya .

Maka Jurnalnya :

Bandingkan dengan metode fisik ! lihat perbedaannya dengan jurnal pembelian metode fisik !

Jurnal Penutup Kasus 1 | Metode Fisik

Tahap ketiga penyelesaian kasus 1 setelah melakukan pencatatan jurnal umum dan jurnal penyesuaian adalah mencatat jurnal penutup untuk rekening nominal. Untuk jelasnya berikut jurnal penyesuaian kasus 1 :

Penjelasan

Yang menjadi pertanyaan pada saat membuat jurnal penutup adalah :

Rekening apa saja / transaksi apa saja yang harus ditutup pada akhir periode ? dan ditutup ke rekening mana ?Â

Setelah melakukan pencatatan pada jurnal umum dan jurnal penyesuaian tahap selannjutnya adalah melakukan penutupan rekening. Rekening yang harus ditutup adalah rekening nominal, apa saja yang temasuk rekning nominal itu ?

  1. Semua jenis biaya yang dikeluarkan dipabrik dan pembelian, harus ditutup ke rekening ikhtisar produksi, dimana rekening biaya dan pembelian yang semula berada pada posisi debet dipindahkan ke sebelah kredit maka saldo seluruh biaya dan pembelian menjadi nol.
  2. Rekening retur pembelian dan potongan pembelian harus ditutup dengan cara memindahkan ke sebelah debet yang semula berada pada sebelah kredit dan ditutup ke rekening ikhtisar produksi, sehingga saldo retur dan potongan menjadi nol.
  3. Dan terakhir adalah menutup rekening ikhtisar produksi itu sendiri ke rekening ikhtisar rugi laba dengan cara mendebet rekening ikhtisar rugi laba dan mengkredit rekening ikhtisar produksi dimana jumlahnya merupakan saldo / selisih antara sisi debet dan kredit rekening ikhtisar produksi. Jadi untuk mencari berapa ikhtisar produksi yang menjadi ikhtisar rugi laba dapat dihitung dengan menggunakan bantuan buku T

Pencatatan Biaya Tenaga Kerja Langsung | Metode Perpetual

Pada pencatatan metode perpetual biaya tenaga kerja langsung yang terjadi selama proses produksi dikumpulkan dalam perkiraan Barang Dalam Proses – Biaya Tenaga Kerja (BDP-BTK). Untuk mengetahui besarnya biaya tenaga kerja langsung bisa dilihat dari catatan daftar upah dan gaji pada peride tertentu.
Pada pencatatan Biaya Tenaga Kerja dicatat sebagai berikut :

  1. Pada saat dimulainya proses produksi maka perusahaan memiliki utang gaji kepada para tenaga kerja maka tahap pertama adalah mencata utang gaji dan upah yang dibenakanpada gaji dan upah
  2. Pada saat pekerjaan selesai maka perusahaan membayar gaji kepada tenaga kerja maka utangnya akan dihapuskan
  3. Pencatatan gaji dan upah yang sudah dibayar menjadi beban produksi
  4. Sebagai contoh, perhatikan kasus dibawah ini :

    Selama bulan agustus 2011 perusahan mengeluarkan upah tenaga kerja langsung Rp 6.700.000 dan upah tenaga kerja tidak langsung sebanyak Rp 2.750.000

    Maka, atas kejadian tersebut dicatat kedalam jurnal sebagai berikut :

    Terlihat dari jurnal diatas, bahwa :

    1. Timbulnya biaya tenaga kerja langsung dicatata dalam jurnal dengan mendebit perkiraan gaji dan upah dan mengkredit perkiraan utang gaji dan upah.
    2. Pada saat gaji dan upah dibayar dicatat dengan mendebit utang gaji dan upah serta mengkredit kas.
    3. Gaji dan upah yang sudah dibayar menjadi beban produksi. Untuk upah langsung dibebankan ke rekening BDP BTK langsung dengan cara mendebitnya, sedangkan untuk upah tak langsung dicatat dalam BOP sesungguhnya dan dicatat dengan mendebitnya. Sedangkan pada bagian kredit dicatat gaji dan upah.

    Sehingga dari jurnal diatas apabila kita catat dalam buku besar T akan tampak aliran Biaya Tenaga Kerja seperti berikut :

Membuat Laporan Produksi Kasus 1 | Metode Fisik

Setelah membuat ikhtiar produksi yang merupakan suatu rangkuman / ikhtisar dari jurnal-jurnal dan pencatatan yang telah dilakukan sebelumnya. Tahap selanjutnya adalah memindahkan ikhtisar produksi tersebut menjadi laporan produksi. Untuk jelasnya dari kasus 1 maka laporan produksinya akan tampak seperti berikut :

Perhatikan besarnya harga pokok produksi akan sama dengan nilai pada jurnal penutup untuk menutup ikhtisar produksi ke rugi laba.

Kartu Persediaan | Metode Perpetual

Salah satu karakteristik metode perpetual adalah digunakannya kartu persediaan, sehingga kartu persediaan tidak akan anda temukan apabila pencatatan mengggunakan metode fisik. Tujuan dibuatnya kartu persediaan pada dasarnya adalah untuk memantau mutasi barang baik secara kuantitas maupun nominal.

Setiap terjadi mutasi barang meliputi pembelian bahan, retur atas pembelian dan pemakaian atas bahan yang ada digudang harus dicatat dalam kartu persediaan. Sehingga dengan melihat kartu persediaan nilai akhir dari persediaan bahan akan selalu up to date (bandingkan dengan pencatatan metode fisik !).

Secara umum bentuk dari pada kartu persediaan adalah sebagai berikut :

Masalah pencatatan kedalam kartu persediaan tidak akan dibahas pada posting kali ini tetapi akan dibahas tersendiri pada posting dibawah kategori Biaya Bahan Baku.

Pencatatan pembelian bahan, retur pembelian bahan , dan pemakaian bahan dalam proses produksi apabila digambarkan kedalam sebuah diagram akan tampakseperti berikut :

Dari gambar diatas terlihat tanda panah dengan nomor 1 menunjukan aliran pencatatan transaksi pembelian bahan baku, alur tanda panah nomor 2 menunjukan pencatatan transaksi retur pembelian bahan baku dan nomor aliran tanda panah nomor 3 menunjukan pencatatan transaksi pemakaian bahan baku, jika menggunkan kartu persediaan maka dari ketiganya akan diperoleh saldo bahan baku (s) sebesar Rp 900.000,-

Pencatatan Metode Perpetual

Setelah membahas pencatatan metode fisik, maka kita selanjutnya bahas tentang metode perpetual. Pencatatan secara perpetual memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Tidak terdapat rekening pembelian, sehingga setiap terjadi pembelian akan langsung dicatat rekening persediaan.
  2. Mutasi barang dicatat dalam Kartu Persediaan, dimana setiap barang akan memiliki satu kartu persediaan.
  3. Perhitungan persediaan tidak dilakukan setiap akhir periode seperti halnya metode fisik, nilai persediaan serta nilai harga pokok persediaan akan senantiasa up to date setiap terjadi mutasi persediaan baik pembelian, penjualan, serta retur.
  4. Pencatatan penjualan dilakukan dua kali, yang pertama mencatat penjualan itu sendiri dan yang kedua mencatat harga pokok atas barang yang terjual, sedangkan pada metode fisik cukup satu kali yaitu pencatatan penjualan nya saja.
  5. Atas dasar point (4) maka nilai persediaan akhir bisa diketahui setiap saat, bandingkan dengan metode fisik dimana nilai persediaan baru diketahui di akhir periode setelah perhitungan fisik.

Pencatatan Biaya Produksi Tidak Langsung (BOP) | Metode Perpetual

Yang dimaksud biaya produksi tidak langsung adalah seluruh biaya produksi yang terjadi di pabrik (dibagian produksi) selain biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung, biaya produksi tidak langsung sering juga diistilahkan dengan biaya overhead pabrik (BOP), yang termasuk kedalam biaya produksi tidaklangsung contohnya :

  • Pemakaian bahan penolong
  • Upah tidak langsung ; upah yang diberikan kepada pekerja yang secara tidak langsung tidak terlibat dalam pembuatan produk misal gaji mandor, gaji kepala bagian produksi dan sebagainya.
  • Biaya penyusutan mesin di bagian produksi.
  • Biaya penyusutan gedung pabrik dan
  • Segala biaya yang terjadi di bagian produksi yang secara tidak langsung turut serta membentuk harga pokok produksi dari produk yang dihasilkan.

Biaya biaya tidak langsung sebelum dibebankan kepada produk dikumpulkan dalam perkiraan Biaya Overhead Pabrik (BOP). Dengan demikian biaya produksi tidak langsung yang sesungguhnya terjadi merupakan elemen pembentuk harga pokok produksi. Biaya produksi tidak langsung yang sesungguhnya dicatat dalam jurnal dengan mendebet perkiraan BOP Sesugguhnya dan mengkredit macam-macam rekening yang dikredit bila unsur biaya produksinya tidak diketahui, tetapi bila BOP sesungguhnya diketahui jenisnya, maka jurnalnya mendebit perkiraan BOP dan mengkredit setiap jenis BOP Sesugguhnya tersebut.
Dari pemaparan diatas maka cara mencatat biaya produksi tidak langsung adalah sebagai berikut :

1. Bila jenis BOP tidak diketahui maka jurnalnya

2. Bila jenis BOP diketahui, misal :

  • Biaya bahan penolong Rp. 1.500.000
  • Biaya penyusutan gedung pabrik Rp. 4.000.000
  • Biaya penyusutan mesin Rp. 3.500.000
  • Biaya asuransi pabrik Rp. 2.000.000

Maka bentuk jurnalnya :

3. Pembebanan BOP sesungguhnya kepada produk
Misal , BOP dibebankan kepada produk dengan tarif 105% dari biaya tenaga kerja langsung, dimana besarnya tenaga kerja langsung adalah Rp. 10.000.000, maka jurnalnya :

BOP dibebankan = 105% X BTKL = 105% x Rp. 10.000.000 = Rp. 10.500.000

4.Mencatat selisih BOP
Kadang dalam praktek antara BOP sesungguhnya terjadi dengan BOP yang dibebankan tidak sama, sebab pembebanan kepada produk biasanya berdasarkan tarif yang telah ditentukan dimuka (lihat contoh diatas, tarif ditentukan berdasarkan % dari Biaya Tenaga Kerja Langsung).
Bila terjadi hal demikian maka harus dibuat jurnal untuk mencatat selisih BOP.

  • Jika BOP sesungguhnya lebih besar dari BOP yang dibebankan maka terjadi selisih rugi, maka jurnal untuk mencatat selisih rugi BOP tersebut adalah :

    Selisih BOP (D) Rp. xxx
    BOP Sesungguhnya (K) Rp. xxx

  • Jika BOP sesungguhnya lebih kecil dari BOP yang dibebankan maka terjadi selisih laba, maka jurnal untuk mencatat selisih rugi tersebut adalah :

    BOP Sesunguhnya (D) Rp. xxx
    Selisih BOP (K) Rp. Xxx

Dari contoh diatas maka terjadi selisih laba sebesar Rp 500.000 karena haga BOPS sesungguhnya lebih besar dari BOP dibebankan maka jurnalnya :

5. Menutup rekening selisih BOP
Selisih yang terjadi dan telah dicatat dalam jurnal maka pada akhir nya harus ditutup, penutupan dilakukan tergantung dari selisih yang terjadi ,

  • Jika selisih laba maka penutupan dilakukan dengan cara mendebet perkiraan Harga Pokok Penjualan dan mengkredit selisih BOP
  • Jika selisih rugi maka penutupan dilakukan dengan cara mendebet perkiraan selisih BOP dan mengkredit perkiraan Harga Pokok Penjualan
    Dari contoh diatas dimisalkan nilai harga pokok penjualan sebesar Rp 20.000.000 maka untuk menutup selisih BOP pada point 4 jurnalnya adalah :

     

Dari lima langkah pencatatan biaya produksi tak langsung jika kita posting ke buku besat T akan tampak aliran biaya seperti berikut ini :

Pencatatan Pemakaian Bahan Baku | Metode Perpetual

Pencatatan pemakaian bahan baku dilakukan apabila terjadi pemakaian dari bahan baku yang dibeli untuk proses produksi. Â Pencatatan bahan baku dengan metode perpetual yaitu dengan mencatat BDP (Barang Dalam Proses) Biaya Bahan Baku di sebelah debet dan mengkredit persediaan bahan baku (karena terjadi pengurangan persediaan di gudang)

Sebagai contoh :

Dari pembelian tanggal 1 Maret 2011 , pada tanggal 20 Mei 2011 dipakai bahan baku sebanyak 2.500 kg senilai Rp. 7.500.000, maka jurnal nya adalah sebagai berikut :

Membuat Ikhtisar Produksi Kasus 1 | Metode Fisik

Setelah membuat tiga jurnal sebelumnya selanjutnya adalah membuat laproan ikhtisar produksi, ikhtisar produksi merupakan proses penggabungan rekening dari ketiga jurnal yang telah dibuat sebelumnya yaitu jurnal umum, jurnal penyesuaian dan jurnal penutup adapun aturan umum menggabungkan menjadi sebuah ikhtisar produksi adalah :

  1. Persediaan awal baik bahan baku maupun barang dalam proses disimpan di kolom sebelah kiri.
  2. Biaya produksi seperti biaya tenaka kerja langsung dan biaya produksi tak langsung disimpan di kolom sebelah kiri
  3. Biaya biaya lainnya selain biaya bahan baku dan biaya produksi tak langsung disimpan di kolom sebelah kiri.
  4. Pembelian bahan baku (bahan penolong) disimpan di kolom sebelah kiri
  5. Persediaan akhir baik bahan baku maupun barang dalam proses disimpan di kolom sebelah kanan.
  6. Potongan pembelian dan retur pembelian disimpan di kolom sebelah kanan
  7. Dan selisih antara total kolom sebelah kiri dan total kolom sebelah kanan disimpan di kolom sebelah kanan dalam perkiraan saldo, dimana saldo ini menggambarkan besarnya harga pokok produksi. Nilai saldo / harga pokok produksi harus sama dengan nilai rekening ikhtisar produksi yang ditutup ke perkiraan rugi laba di jurnal penutup.

Untuk jelasnya perhatikan laporan ikhtisar produksi dibawah ini berdasarkan transaksi sebelumnya :

Dari ikhtisar produksi diata sebenarnya kita sudah bisa mengambil kesimpulan bahwa proses produksi yang dilakukan telah menghabiskan biaya produksi (harga pokok produksi) sebesar Rp 26.532.000

Namun untuk formal-nya ikhtisar tersebut dilaporkan dalam suatu bentuk laporan yang disebut laporan harga pokok produksi.

Pencatatan Biaya Tenaga kerja Langsung | Metode Fisik

Biaya tenaga kerja langsung adalah seluruh biaya yang digunakan untuk membayar upah pekerja langsung yaitu pekerja yang secara langsung membuat produk. Sepertihalnya biaya, biaya tenaga kerja memiliki saldo normal debet. Padaakhir periode akuntansi biaya tenaga kerja langsung ditutup dengan jurnal penutup, dan nilainya dipindahkan ke ikhtisar produksi.

Contoh
Tangal 1 Desember 2009 dibayar biaya tenaga kerja langsung sebesar Rp 2.000.000, maka pada tanggal 1 desember dijurnal :

Sedangkan pada akhir periode akan ditutup dengan jurnal sebagai berikut :