Contoh Kasus 1 | Metode Fisik

Berikut ini disajikan data-data dari percetakan PD Jakarta selama bulan Nopember 2010 :

A. Persediaan pada 1 Nopember 2010

  • Bahan Baku Rp 4.000.000
  • Barang dalam proses Rp 2.500.000

B. Transaksi yang terjadi selama bulan Nopember 2010

  1. Pembelian bahan seharga Rp 10.200.000 dengan syarat 2/10 n/30
  2. Sebagian bahan seharga Rp 1.800.000 dikembalikan karena tidak sesuai dengan pesanan (cacat)
  3. Dibayar biaya angkut pembelian bahan selama bulan Nopember 2010 Rp 1.400.000
  4. Dibayar biaya produksi selama bulan Nopember 2010 :
    – Biaya tenaga kerja langsung Rp 6.600.000
    – Biaya tenaga kerja tidak langsung Rp 3.300.000
  5. Dibayar biaya produksi tidak langsung yang merupakan beban selama bulan Nopember 2010
    – Biaya listrik bagian pabrik Rp 1.400.000
    – Biaya air dan telepon bagian pabrik Rp 1.750.000
  6. Membayar utang atas pembelian bahan dengan memperoleh potpngan 2%
  7. Biaya asuransi pabrik yang menjadi beban bulan Nopember 2010 Rp 2.000.000 (Pada saat dibayar dicatat sebagai asuransi pabrik dibayar dimuka)
  8. Gedung pabrik dan mesin pada akhir bulan Nopember 2010 masing-masing disusutkan Rp 1.450.000 dan Rp 1.600.000

C. Pada akhir bulan Nopember 2010 terdapat persediaan :

  • Bahan baku Rp 4.500.000
  • Barang dalam proses Rp. 3.200.000

Dari data diatas buatlah :

  1. Jurnal atas transaksi yang terjadi selama bulan Nopember 2010
  2. Jurnal penyesuaian pada akhir bulan Nopember 2010
  3. Jurnal penutup pada akhir bulan Nopember 2010
  4. Buat ikhtisar produksi
  5. Buat laporan harga pokok produk jadi pada akhir Nopember 2010

Pencatatan Barang Dalam Proses Awal | Metode Fisik

Apabila pada awal periode akuntansi terdapat saldo barang dalam proses, maka saldo tersebut pada akhir periode harus disesuaikan ke ikhtisar produksi (Ingat bukan ihktisar rugi laba !)untuk meng-nol-kan persediaan awal.

Misal :
Pada 1 Januari 2009 terdapat persediaan awal barang dalam proses senilai Rp. 2.400.000, maka pada akhir periode nilai ini harus dihilangkan / disesuaikan (di-nol-kan) dengan cara mengkredit rekening persediaan barangdalam proses sejumlah persediaan awal dan menutup nya ke rekening ikhtisar produksi.

Selanjutnya pada akhir periode setelah terjadi proses produksi selama periode akuntansi apabila terdapat persediaan akhir barang dalam proses, maka persediaan akhir tersebut harus ditimbulkan di neraca saldo akhir dengan cara melakukan penyesuaian yaitu mendebet perkiraan persediaan barang dalam proses dan mengkredit ikhtisar produksi sejumlah nilai persedaiaan barang dalam proses akhir.

Misal :

Dari persediaan awal diatas, setelah selama satu periode berproduksi, perusahaan memiliki persediaan akhir barang dalam proses sejumlah Rp. 3.200.000,- maka untuk menimbulkannilai Rp. 3.200.000.- tersebut dilakukan dengan cara mendebet persediaan barang dalam proses da mengkredit ikhtisar produksi senilai Rp. 3.200.000,-

Dari uraian diatas maka jurnal penyesuaiannya adalah :

Sehingga pada saat diposting ke buku besar T akan tampak seperti berikut :


Dari buku besar diatas maka nilai persediaan akhir barang dalam proses adalah Rp 3.200.000,-Â karena nilai persediaan awal sebesar Rp 2.400.000,- sudah menjadi nol , dan perkiraan ikhtisar produksi terdapat saldo Rp. 800.000

Pencatatan Persediaan bahan | Metode Fisik

Pemakaian bahan (Bahan Baku dan / atau Bahan Penolong)

Dalam pencatatan sistem periodik / fisik, pencatatan bahan tidak perlu dijurnal karena bahan yang dipakai akan dihitung secara fisik dengan menggunakan bantuan perhitungan sebagai berikut :

Pada akhir periode jumlah bahan yang dipakai ditutup ke rekening ikhtisar produksi dengan jurnal penutup, dengan jurnal seperti berikut :

Persediaan Bahan Baku Awal

Pada umumnya jika perusahaan sudah berjalan, maka pada setiap awal periode akuntansi pasti terdapat saldo persediaan baik persediaan bahan baku maupun bahan penolong. Jika terjadi hal demikian maka pada akhir periode saldo persediaan awal kita tutup ke rekening ikhtisar produksi untuk meng-nol-kan nilai persediaan awal (secara teknis memindahkan posisi saldo awal yang tadinya disebelah debet dipindahkan ke sebelah kredit). Hal ini dilakukan pada akhir periode dengan menggunakan jurnal penyesuaian. Dari contoh diatas jika dilakukan penyesuaian pada akhir periode maka akan tampak seperti berikut :

Persediaan Bahan Baku Akhir

Demikian pula jika pada pakhir periode, perusahaan tidak menghabiskan seluruh bahan baku nya untuk diproses menjadi produk, maka sudah pasti akan terdapat persediaan akhir. Persediaan akhir ini belum tercantum didalam rugi laba atau neraca untuk mencatumkannya dilakukan dengan cara melakukan penyesuaian dengan jurnal penyesuaian pada akhir periode dengan cara mendebet perkiraan persediaan akhir dan mengkredit rekening ikhtisar produksi, untuk jelasnya dari contoh diatas jika pada akhir periode dilakukan penyesuaian terhadap persediaan akhir adalah :

Kesimpulan

Sehubungan dengan rekening pembelian bahan baku, persediaan awal, persediaan akhir dan pemakaian bahan baku.

  1. Jika terjadi pembelian maka, pada akhir periode lakukan penutupan rekening pembelian ke ikhtisar produksi
  2. Pada akhir periode lakukan penutupan pemakaian bahan baku ke rekening ikhtisar produksi
  3. Jika pada awal periode perusahaan memiliki persediaan awal, maka persedaan awal harus disesuaikan dengan tujuan meng-nol-kan (menghilangkan) persediaan awal dan ditutup rekening ikhtisar produksi, secara teknis memindahkan rekening persediaan awal ke sebelah kredit !
  4. Dan jika perusahaan memiliki persediaan akhir maka pada akhir periode untuk menimbulkan rekening persediaan akhir dilakukan dengan melakukan penyesuaian dengan cara mencatat rekening persediaan (akhir) disebelah debet dan mencatat ikstisar produksi di sebelah kredit.

Jurnal Umum Kasus 1 : Metode Fisik

Berikut ini adalah jurnal umum penyelesaian kasus 1 :

Tahap pertama dari kasus 1 adalah melakukan pencatatan semua transkasi yang terjadi untuk bulan yang bersangkutan.

A. Jurnal Umum


B. Penjelasan

Akuntansi Perusahaan Industri

Setelah mengetahui pengertian perusahaan industri yang didalamnya terjadi proses produksi dengan menggunakan biaya produksi untuk menghasilkan produk jadi yang siap dijual, selanjutnya adalah bagaimana akuntansi terjadi di perusahaan industri.

Pada umumnya proses pencatatan akuntansi yang terjadi di perusahaan industri tidak berbeda dengan jenis perusahaan jasa dan dagang, dimana seperti kita ketahui proses pencatatan atau selanjutnya kita sebut metode pencatatan terdiri dari dua metode yaitu :

Selanjutnya pembahasan tiap metode diatas akan dibahas pada bahasan tersendiri pada kategori masing-masing metode tersebut.

Pencatatan Akuntansi Biaya Pada Sistem Fisik

Berdasarkan kegiatannya didalam perusahaan industri, maka secara umum perusahaan indstri memiliki rekening-rekening sebagai berikut  apabila pencatatan dilakukan secara fisk / periodik:

  1. Pembelian bahan baku
  2. Persediaan bahan baku
  3. Biaya tenaga kerja langsung
  4. Biaya produksi tak langsung / BOP
  5. Persediaan produk dalam proses
  6. Persediaan produk jadi dan
  7. Harga pokok produk jadi


Seluruh perkiraan persediaan seperti persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan produk jadi digunakan untuk mengetahui persediaan pada akhir periode akuntansi dengan cara melakukan penyesuaian dengan jurnal penyesuaian (adjusment entry).

Sedangkan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya produksi tak langsung lainnya (BOP) pada akhir periode akan ditutup ke perkiraan ikhrisar produksi untuk mengetahui berapa biaya produksi yang terjadi selama periode tertentu.

Konsekensi bagi perusahaan yang menerapkan sistem periodik / fisik adalah informasi biaya tidak dapat disajikan sesegera mungkin tetapi harus menunggu sampai akhir periode akuntansi.

Dari rekening-rekening diatas, maka dapatlah kiranya dijelaskan bagaimana pencatatan akuntansi di perusahaan industri dengan menggunakan sistem fisik / periodik. Silahkan klik masing rekening diatas untuk melihat pencatatan dengan metode  fisik.

Pencatatan Penjualan Produk Jadi | Metode Fisik

Produk jadi yang telah dipindahkan dari bagian produksi ke gudang, selanjutnya akan dijual, ciri khas pencatatan pada saat terjadi penjualan di metode fisik adalah pencatatan cukup satu kali dilakukan yaitu mencatat transaksi penjualan baik itu tunai maupun kredit, berbeda dengan metode perpetual yang melakukan pencatatan sebanyak dua kali pada saat penjualan.

Jadi pada metode fisik ketika terjadi penjualan hanya dapat mengetahui besarnya nilai penjualan dan kas yang masuk atau piutang yang timbul, sehingga pencatatan akan tampak seperti contoh dibawah ini :

4 Desember 2009 Â Â Â Â : Diterima per kas atas penjualan produk jadi senilai 10.500.000

Maka Jurnalnya :

Dari jurnal diatas harga pokok penjualan produk yang terjual tidak dapat diketahui saat itu juga dan ini pun merupakan ciri khas metode fisik. Lalu bagaimana untuk mengetahui harga pokok penjualan ? pada metode fisik harga pokok penjualan hanya dapat diketahui pada akhir periode dan dihitung dengan bantuan rumusan seperti dibawah ini :

Harga pokok penjualan tersebut setelah diketahui, pada akhir periode harus ditutup ke perkiraan ikhtisar dengan jurnal penutup.

Dan untuk mengetahui laba atau rugi maka pada akhir perode dihitung dan dilaporkan dalam laporan rugi laba. Adapun bentuk umum laporan rugi laba perusahaan manufaktur untuk metode fisik adalah sebagai berikut :

Aliran Biaya Produksi | Metode Fisik

Dari seluruh aktifitas pencatatan transaksi awal sampai dengan selesainya proses produksi apabila digabungkan seluruh pembukuan dalam bentuk T maka akan tergambar aliran biaya produksi yang menggambarkan proses berubahnya biaya menjadi barang dalam proses atau barang jadi.

Biaya Produksi Tak Langsung | Metode Fisik

Biaya produksi tak langsung adalah biaya produksi selain bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung yang terjadi di pabrik, misal :

  1. Biaya bahan penolong
  2. Biaya penyusutan mesin
  3. Biaya asuransi gedung pabrik
  4. Biaya service mesin
  5. Upah / Gaji Mandor
  6. Biaya listrik Pabrik
  7. Biaya telepon pabrik
  8. Biaya air pabrik
  9. Dan lain lain yang dikeluarkan dan digunakan untuk keperluan pabrik dalam rangka proses produksi.

Biaya produksi tak langsung selanjutnya kita sebut Biaya overhead pabrik (BOP). Biaya-biaya tersebut (BOP) pada saat pembayaran dilakukan dengan mengkredit kas jika dibayar perkas dan dikredit utang jika dibayar melalui tata cara kredit. Pada akhir periode biaya produksi tak langsung (BOP) dikumpulkan pada masing-masing jenis biaya produksi tak langsung. Pada akhir periode akuntansi melalui jurnal penutup dipindahkan ke perkiraan ikhhtisar produksi (bukan ihktisar rugi laba !), karena pada dasarnya biaya produksi juga merupakan golongan rekening riil yang harus ditutup pada akhir periode !.

Contoh :

Pada tanggal 1 Desember 2009, dibayar biaya-biaya sehubungan proses produksi yaitu :

  1. Biaya asuransi pabrik                Rp.      700.000,-
  2. Biaya listrik, air dan telepon pabrik  Rp.      300.000,-
  3. Pemakaian bahan baku               Rp.      900.000,-
  4. Gaji Mandor                          Rp.      700.000,-
  5. Biaya service mesin                  Rp.      250.000,-
  6. Biaya Penyusutan mesin             Rp.      500.000,-

Biaya-biaya diatas dibaya per kas oleh perusahaan.

Maka Jurnal pada saat pembayaran adalah :

Sedangkan pada akhir periode, yaitu tanggal 31 Desember 2009 rekening-rekening diatas harus ditutup kedalam rekening ikhtisar produksi, maka pencatatannya adalah :

Sehingga pada saat diposting ke buku besar T akan tampak seperti berikut :

Dari buku besar tersebut pada tanggal 31 Desember semua perkiraan biaya tak langsung ditutup dengan cara memindahkan ke sebelah kredit yang semula ada di sebelah debet, sehingga saldo masing masing biaya menjadi Rp 0 (nol), dan pada akhir periode rekening kas berkurang sejumlah Rp. 3.350.000 serta timbulnya rekening ikhtisar Produksi sebesar Rp. 3.350.000

Pencatatan Pembelian Bahan Baku | Metode Fisik

Sesuai ciri utama metode fisik, maka setiap terjadi pembelian akan dicata pada rekening pembelian baik secara kredit maupun tunai.

Sebagai contoh :

1 Agustus 2010 : Dibeli secara tunai bahan baku sebanyak 500 kg @ Rp 2.000,- per Kg.

Tanggal Uraian Debet Kredit
1 Agustus 2010 Pembelian   Rp. 1.000.000,-
    Kas Rp. 1.000.000,-

Sebagai kelompok rekening nominal, pada akhir periode akuntansi saldo dari perkiraan pembelian (baik bahan baku atau bahan penolong) ditutup ke perkiraan ikhtisar produksi dengan jurnal penutup, dari contoh diatas maka jurnal penutupnya :

Tanggal Uraian Debet Kredit
31 Desember 2010 Ikhtisar Produksi   Rp. 1.000.000,-
    Pembelian Rp. 1.000.000,-