Ihtisar Produksi | Metode Fisik

Setelah melakukan pencatatan pada saat terjadi transaksi serta melakukan penyesuaian dan penutupan, tahap berikutnya dari metode pencatatan fisik adalah melakukan peng-ihktisaran biaya produksi dari transaksi berikut ini :

  1. Pembelian bahan baku
  2. Persediaan bahan baku
  3. Biaya tenaga kerja langsung
  4. Biaya produksi tak langsung / BOP
  5. Persediaan produk dalam proses

Adapun bentuk umum ikhtisar biaya produksi tersebut adalah sebagai berikut :

Yang menjadi pertanyaan adalah ? rekening apa saja yang disimpan di kolom sebelah kanan dan rekening apa saja yang disimpan di kolom sebelah kiri ?

Kolom sebelah kiri diisi dengan rekening-rekening yang berada pada Kolom debet pada jurnal penyesuaian dan penutupan, sepert :

  1. Pembelian bahan baku
  2. Persediaan bahan baku (awal)
  3. Biaya tenaga kerja langsung
  4. Biaya tenaga kerja tak langsung
  5. Persediaan barang dalam
  6. proses akhir (awal)

Sedangkan kolom sebelah kanan diisi dengan rekening-rekening yang berada pada kolom kredit pada jurnal penyesuaian dan jurnal penyutup, seperti :

  1. Persediaan bahan baku (akhir)
  2. Persediaan barang dalam proses akhir (awal)
  3. Potongan pembelian bahan  baku (jika ada)
  4. Retur pembelian bahan baku (jika ada)

Kemudian jumlahkan kedua kolom tersebut ? apakah hasilnya sama ? tentu tidak, pasti akan ada selisih antara kolom sebelah kanan dan kolom sebelah kiri, lalu dikemanakan selisih tersebut ? selisih tersebut disimpan di kolom sebelah kanan dalam rekening harga pokok proses (atau saldo). Dari selisih tersebut sudah memberikan gambaran secara umum berapa harga pokok produksi yang dihasilkan dari aktifitas proses produksi  yang telah dilakukan.

Maka sampai saat ini pun salah tujuan akuntansi biaya sudah tercapai yaitu mencari harga pokok produksi

Pencatatan Produk Jadi | Metode Fisik

Akhir dari pada proses produksi adalah terciptanya produk jadi sebagai akibat dari proses produksi yang melibatkan banyak biaya produksi. Pada saat produk selesai dibuat (produk jadi) dan dipindahkan dari bagian produksi ke gudang tidak perlu dilakukan pencatatan akuntansi, ini karena seluruh biaya produksi sudah dicatat pada saat pemakaian dan dikumpulkan dalam rekening ikhtisar produksi. Lalu bagaimana mengetahui harga pokok produk jadi pada periode yang bersangkutan. Hal itu dapat dilakukan dengan cara membandingkan antara jumlah disebelah debet dengan disebelah kredit pada rekening ihktisar produksi (dengan bantuan buku besar T) atau dapat dihitung dan dilaporkan dengan menggunakan laporan perhitungan harga poko produk jadi. Secara umum bentuk laporan harga pokok produk jadi adalah seperti tercantum dibawah ini :

Jika dikerjakan dengan bantuan buku besar T, maka siapkan buku besar T seperti pada tampak dibawah ini :

Dari buku besar diatas (s) adalah selisih antara sisi debet dan sisi kredit untuk rekening ikhtisar produksi. Selisih tersebut merupakan harga pokok produk jadi.

Perusahaan Industri

perusahaan industri merupakan perusahaan yang mengolah bahan baku (raw material) menjadi barang jadi (Finished Goods). Barang jadi tersebut kemudian dijual setelah sebelumnya disimpan sementara di gudang penyimpanan. Kegiatan mengolah bahan baku menjadi barang jadi disebut proses produksi. Aktifitas proses produksi bila digambarkan secara diagram akan tampak seperti berikut :


Dari diagram diatas seluruh kegiatan produksi melibatkan banyak biaya yang secara umum dikelompokan kedalam tiga kelompok besar yaitu biaya bahan baku, biaya upah langsung , dan biaya lain lain yang terjadi di pabrik (biaya pabrikasi), seluruh biaya tersebut disebut sebagai biaya produksi.

Pencatatan Metode Fisik

Pencatatan akuntansi dengan metode fisik merupakan metode yang paling mudah dipelajari dan digunakan, oleh kareana itu dalam tingkat pembelajaran manapun, kasus yang diberikan terlebih dahulu adalah pencatatan akuntansi dengan metode fisik. Ciri-ciri metode fisik Bagaimana kita mengidentifikasi suatu metode dikatakan dicatat dengan metode fisik atau bukan ?.. berikut adalalah ciri-ciri metode fisik :

1. Pembelian

Karakteristik yang sangat jelas membedakan metode fisik dengan  metode perpetual adalah terdapatnya rekening pembelian, artinya setiap terjadi pembelian barang baik secara kredit maupun secara tunai maka aktifitas pembelian akan dicatat di rekening pembelian. Sehingga pada neraca saldo (neraca) akan tampak rekening pembelian begitu pula akan terdapat buku besar (Ledger) rekening pembelian.

Contoh :

Pada tanggal 12 Agustus 2010, dilakukan pembelian persediaan secara tunai dengan nilai transaksi sebesar Rp. 5.000.000,- maka pada metode ini akan dicatat sebagai berikut :

12 Agustus 2010 Pembelian Rp 5.000.000,-
Kas Rp 5.000.000,-

Pada tanggal 14 Agustus 2010, dilakukan pembelian persediaan secara kredit dengan nilai transaksi sebesar Rp. 4.000.000,- maka pada metode ini akan dicatat sebagai berikut :

14 Agustus 2010 Pembelian Rp 4.000.000,-
Utang Dagag Rp 4.000.000,-

2. Penjualan

Pada metode fisik, ketika terjadi penjualan hanya dicatat pada rekening penjualan sehingga tidak bisa diketahui / dicatat harga pokok barang yang dijual.

Contoh :

Pada tanggal 15 Agustus 2010 dijual secara tunai barang dagang seharga Rp. 2.500.000,-

15 Agustus 2010 Kas Rp 2.500.000,-
Penjualan Rp 2.500.000,-

3. Penilaian Persediaan Akhir

Sesuai nama metode maka penilaian  persediaan akhir yang akan dicantumkan didalam laporan rugi laba dan neraca, maka penilaian dilakukan secara fisik dengan melakukan pengecekan ke gudang persediaan, konsekuensi dari aktifitas ini adalah terjadinya selisih antara catatan dengan hasil perhitungan fisik. Selisih yang terjadi mungkin disebabkan oleh hilangnya persediaan atau rusaknya persediaan barang digudang. Proses perhitungan fisik ini dilakukan secara periodik pada akhir periode akuntansi oleh sebab itu jika menggunakan metode fisik tidak memungkinkan mengetahui jumlah persediaan akhir di tengah-tengah periode akuntansi yang pada akhirnya harga pokok penjualan pun hanya dapat diketahui pada saat akhir periode yaitu ketika membuat laporan rugi laba.

Untuk mengetahui harga pokok digunakan perhitungan sebagai berikut :

Akuntansi Keuangan Pada Perusahaan Industri

Akuntansi biaya yang terjadi di perusahaan industri tidak terlepas dari akuntansi perusahaan dagang, karena perusahaan industri pada dasarnya adalah perusahaan dagang, jadi untuk mempelajari akuntansi perusahaan industi sebagai pengetahuan dasar harus memahami terlebih dahulu akuntansi perusahaan dagang. Dari segi siklus akuntansi sendiri tidak jauh berbeda antara ketiga jenis perusahaan (jasa, dagang, dan industri). apabila digambarkan dengan diagram maka siklus akuntansi akan tampak seperti dibawah ini :

Apapun bentuk perusahaan, siklus akuntansi yang digunakan adalah seperti yang tampak pada diagram diatas. Untuk memahami siklus ini maka sebelumnya harus mempelajari Akuntansi Dasar / Principles Accounting, sehingga anda membaca blog ini dengan asumsi sudah memahami siklus akuntansi secara umum.

Cara Menghitung Biaya Produksi

Didalam akuntansi biaya terdapat dua cara perhitungan akuntansi biaya, demi tercapainya tujuan akuntansi biaya maka cara perhitungan ini mutlak dilakukan terutama untuk pengendalian biaya dan pengambilan keputusan.

Adapun cara perhitungan biaya yang umum dilakukan adalah :

  1. Perhitungan biaya sebelum proses produksi dilakukanDalam menghitung biaya produksi sebelum proses produksi dilakukan, biaya produksi ditetapkan berdasarkan pengeluaran yang sudah terjadi di masa lalu sebagai dasar perhitungan, kemudian diperhitungkan kemungkinan yang akan terjadi dimasa yang akan datang, misal terjadinya kenaikan harga bahan baku, kenaikan atau penurunan ongkos tenaga kerja, bahkan inflasi atau deflasi turu pula diperhitungkan serta kemungkinan-kemungkinan lainnya. Perhitungan ini berguna untuk menentukan harga pokok produksi.Sebagai contoh perhatikan ilustrasi berikut :
    Pada periode yang akuntansi yang baru (1 jan 2010) perusahaan akan memproduksi barang cetak sebanyak 500.000 eksemplar, berdasarkan pengalaman tahun lalu untuk memproduksi barang cetak dengan jumlah yang sama menghabiskan biaya total sejumah 3.500.000, maka pada 1 jan 2010 untuk memproduksi barang yang sama dengan jumlah yang sama. Maka untuk menentukan biaya produksi 1 jan 2010 adalah dengan melakukan estimasi berdasarkan periode sebelumnya dengan memperhitungan kemungkinan kenaikan dan penurunan yang akan terjadi, sehingga biaya produksi diperkirakan akan menghabiskan dana sebesar Rp 4.600.000,-
  2. Perhitungan biaya setelah proses produksi dilakukan Berdasarkan cara ini untuk menghitung biaya produksi didasarkan atas pencatatan biaya-biaya yang seungguhnya terjadi sehingga diperoleh jumah

Dengan menggunakan kedua cara perhitungan tersebut bisa digunakan untuk mengetahui apakah perusahaan berhasiil melakukan efisiensi atau tidak. Tingkat efisiensi bisa diukur berdasarkan biaya yang dikeluarkan (secara partial) atau berdasarkan seluruh biaya yang dikeluarkan (global), untuk jelasnya perhatikan tabel dibawah ini, dari kasus diatas asumsinya perusahaan telah selesai memproduksi barang cetak sebanyak 500.000 exemplar dengan biaya yang sesungguhnya terjadi sebagaimana tampak pada tabel dibawah. Jika dilihat secara partial per jenis biaya perusahaan mengalamai inefisiensi (tidak efisien) pada kelompok biaya overhead pabrik sedangkan pada dua kelomopok biaya sebelumnya (biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja) perusahaan berhasil melakuakan efisiensi. Namun jika dilihat dari total biaya (secara global) maka perusahaan dikatakan telah melakukan efisiensi.

Metode Pengumpulan Biaya

Metode pengumoulan biaya ditentukan oleh cara berproduksi, pada dasarnya cara berproduksi dibagi dua yaitu atas dasar pesanan dan masal.

  1. Produksi atas dasar pesanan

    Pada perusahaan yang berproduksi secara pesanan, cara pengumpulan biaya produksinya menggunakan metode harga pokok pesanan (Job Order Cost). Biaya produksi dikumpulkan untuk tiap jenis pesanan dan harga poko per satuan dihitung sebagai berikut :

    Harga pokok persatuan = Jumlah biaya produksi tiap pesanan
    Jumlah produk yang dipesan

    Contoh :

    Untuk mengerjakan seratus pesanan pakaian olah raga diperlukan biaya sebagai berikut :

    Bahan bahan baku Rp 500.000
    Bahan penolong Rp 75.000
    Tenaga kerja langsung Rp 600.000
    Biaya overhead pabrik Rp 125.000
    Jumlah biaya produksi Rp 1.300.000

    Maka harga pokok satu stel seragam pakaian olah raga dihitung
    = Rp 1.300.000/100 = Rp 13.000 per stel

  2. Produksi atas dasar produksi massa

    Perusahaan yang ini berproduksi terus menerus selama ada permintaan pasar,artinya ada pesanan atau tidak selama barang yang mereka produksi maka akan terus diproduksi.
    Perusahaan yang berproduksi secara massa di dalam mengumpulkan biaya produksi menggunakan harga pokok proses (process cost method). Dalam metode ini biaya produksi dikumpulkan selama periode tertentu, sedangkan harga pokok per satuan produk yang dihasilkan pada periode tertentu dihitung dengan rumus sebagai berikut :

    Harga pokok persatuan = Jumlah biaya produksi selama periode tertentu
    Jumlah produk yang dihasilkan selama periode tertentu

    Contoh :

    Perusahan industri yang memproduksi shampo selama bulan janari 2003 telah mengeluarkan biaya produksi sebagai berikut :

    Bahan bahan baku Rp 1.900.000
    Bahan penolong Rp 1.000.000
    Tenaga kerja langsung Rp 2.500.000
    Biaya overhead pabrik Rp 600.000
    Jumlah biaya produksi Rp 6.000.000

    Produk yang dihasilkan selama bulan januari sebanyak 10.000 botol (dianggap tidak ada produk belum selesai), jadi harga pokok per satuan dihitung :
    Rp 6.000.000 / 10.000 = Rp 600.000

Biaya Menurut Fungsi Pokok Dalam Perusahaan

Pada umumnya pada perusahaan terdapat tiga fungsi pokok yaitu fngsi produksi, fungsi pemasaran serta fungsi administrasi dan umum, maka atas dasar fungsi tersebut biaya digolongkan menjadi :

  1. Biaya produksi, yaitu biaya yang terjadi untuk pada saat proses produksi, contoh biaya bahan baku,biaya tenaga kerja, biaya overhead pabrik (didalamnya terdiri dari, biaya bahan penolong, biaya upah tak langsung, biaya listrik pabrik, gaji mandor, biaya air dan telepon bagian pabrik, dan lain lain selain biaya tenaga kerja dan bahan baku yang terjadi di dalam pabrik).
  2. Biaya administrasi dan umum, yaitu biaya yang terjadi berhubungan dengan pengaturan dan koordinasi perusahaan diluar produksi dan pemasaran, misal gaji bagian administrasi dan umum, biaya perlengkapan kantor, biaya listrik dan telepon perusahaan, dan lain-lain.
  3. Biaya pemasaran dan penjualan, yaitu biaya yang terjadi sehubungan adanya kegiatan penjualan dan pemasaran, misal biaya iklan/promosi, gaji bagian pemasaran, dan lain-lain.

Berdasarkan fungsi pokoknya biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung disebut biaya primer (primer cost) sedangkan biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik disebut biaya konversi (conversition cost), untuk jelasnya perhatikan diagram berikut ini :

Biaya Menurut Obyek Pengeluaran

Penggolongan biaya menurut kriteria ini adalah semua pengeluaran yang menggunkan objek pengeluaran sebagai dasar penggolongannya. yang termasuk biaya menurut kriteria ini yaitu :

  1. Untuk membeli bahan baku disebut biaya bahan baku. Bahan baku antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya pasti berbeda namun dapat dengan jelas diidentifikasi mana yang tergolong bahan baku mana yang bukan, secara sederhana dapat disebutkan jika bahan yang digunakan cukup dominan dalam sebuah produk maka bahan ersebut dianggap sebagai bahan baku, misal pabrik roti dominan menggunakan tepung terigu sebagai bahan roti maka biaya yang dikeluarkan untuk membeli tepung terigu adalah Biaya Bahan Baku atau disingkat BBB .
  2. Untuk membayar tenaga kerja disebut biaya tenaga kerja. Tenaga kerja adalah orang yang bekerja menggunakan tanaga dan pikiran untuk menciptakan sebuah produk, biaya yang digunakan untuk membayar pekerja atas kontribusinya membuat produk maka disebut sebagai Biaya Kenaga Kerja atau disingkat BTK.
  3. Dan terakhir jika diperusahaan menggunakan sumber daya yang lain diluar biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja, maka perusahaan mengeluarkan biaya lain-lain yang jumlahnya relatif kecil dibandingkan dengan jumlah biaya bahan baku dan tenaga kerja, untuk membayar biaya lain-lain yang terjadi di pabrik disebut biaya overhead pabrik atau dikenal BOP.

Ketiga komponen biaya inilah yang nantinya jika digabungkan dan dikalkukasikan akan membentuk sebuah harga pokok produk, jika dirumuskan secara sederhana maka :

Harga pokok produk = BBB + BTK + BOP

Tags:

Biaya Menurut Jangka Waktu Manfaatnya

Atas dasar jangka waktu manfaatnya, maka biaya digolongkan menjadi :

  1. Pengeluaran Modal / Capital Expenditure
    Yang tergolong dalam pengeluaran ini, adalah biaya-biaya yang menimbulkan manfaat dan manfaat tersebut dapat dinikmati lebih dari satu periode akuntasi (satu tahun).
    Pada saat terjadi pengeluaran modal dicata sebagai harga pokok aktiva dan dibebankan daam tahun-tahun yang menikmati manfaatnya dengan cara mengalokasikan sebagian harga pokok aktiva tersebut sebagai penyusutan, amortisasi, atau deflesi.
    Contoh :

    biaya refarasi mesin cukup besar pada saat pengeluaran dicatat sebagai tambahn harga pokok mesin.

  2. Pengeluaran Penghasilan / Revenue Expenditure
  3. Yang tergolong dalam pengeluaran ini adalah biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam satu periode akuntansi (satu tahun). Pada saat terjadinya pengeluaran, penghasilan tersebut dibebankan sebagai biaya dan diperhitungkan sebagai penghasilan yang diperoleh didalam periode akuntasi dimana biaya tersebut terjadi.
    Contoh : Biaya pemeliharaan mesin, baiya gaji bagian penjualan